Menguber Uber

image

Sudah setahun belakangan ini, warga Jakarta maupun kota-kota besar lainnya dimanjakan dengan moda angkutan umum berbasis aplikasi ponsel pintar (baca: taksi aplikasi). Entah itu ojek motor maupun mobil. Gencarnya program-program pemerintah setempat untuk memperbaiki sarana transportasi umum, sepertinya masih kalah dengan keunggulan yang ditawarkan taksi aplikasi.

Saya termasuk yang ikut merasakan manfaatnya. Terlepas dari apakah sesuai atau tidak dengan peraturan yang ada. Pilihan tetap saja ada di tangan konsumen, bukan?

Metromini, Kopaja, Mikrolet adalah sederet moda angkutan umum yang belum juga bisa menunjukkan peningkatan dalam hal kenyamanan dan keamanan. Masih jelas teringat tragedi yang menimpa teman saya yang meninggal setelah jatuh dari Metromini di area Jalan MH Thamrin, awal Februari 2016 kemarin.

Taksi maupun ojek aplikasi, sejauh yang saya rasakan sampai saat ini, mampu menjawab kekurangan yang belum bisa sepenuhnya diberikan oleh angkutan umum “resmi” yang sudah ada. Bahkan oleh Trans Jakarta sekalipun.

Adalah Uber dan Grab, dua aplikasi yang saat ini sudah akrab di tangan para pengguna angkutan umum. Kecepatan, kenyamanan, kebersihan, dan harga yang relatif lebih murah yang tampaknya menjadi daya tarik yang sangat kuat. Untuk urusan usia mobil, kabarnya mereka tidak memperbolehkan usia mobil lebih dari lima tahun. Bahkan, kebersihan mobil juga dicek secara berkala. Bahkan untukburusan kecepatan, Uber memiliki keunggulan, aplikasi akan langsung memetintahkan pengemudi terdekat untuk menjemput calon penumpang, kemanapun, dan untuk jarak tempuh berapapun.

Ya, untuk jarak tempuh berapapun. Hal berbeda sering saya rasakan jika memesan atau menghentikan taksi umum. Seringkali, pengemudi taksi menolak jika ternyata jaraknya cukup dekat. Padahal, yang namanya ditolak, “Sakitnya tuh disini…”.

Menjadi PR yang cukup berat bagi pemegang otoritas terkait angkutan umum, untuk mengejar ketinggalan dari taksi-taksi aplikasi itu. Semoga saja mereka serius untuk benar-benar membenahinya. Bahkan malah bisa melampuinya. Jadi, tidak melulu melarang dengan alasan peraturan lah, apalah apalah.. Jadi jantan saja lah, akui kalau banyak kelemahan. Benahi dengan serius.. Jangan lantas tiap hari hanya menguber Uber..

Sekian,
Pengguna Taksi/Ojek Aplikasi

Sumber gambar : google.com

Advertisements

4 thoughts on “Menguber Uber

  1. Pingback: Grab Meng-Uber Gojek | asepsaiba.id

  2. Pingback: Grab Meng-Uber Gojek | asepsaiba.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s